About Me

Foto saya
juzt a simple man with his three angels....

Jam neh....

Star Rating

Sabtu, 11 April 2009

Mauw tauw rahasia kentut..???^_^



Buang angin, kentut, atau yang dalam istilah ilmiahnya disebutflatulence, flatulency, flatus, adalah ciptaan Allah, yang sudah pasti bukanlah peristiwa biasa. Anda dapat membuktikannya dengan mencari tulisan ilmiah seputar kentut di mesin pencari pustaka ilmiah di internet, misalnya di scholar.google. com dengan mengetikkan kata kunci flatulence intestine. Yang akan Anda dapatkan adalah tidak kurang dari 4800 rujukan ilmiah yang membahas atau mengandung rujukan tentangkentut dari tahun 2000 hingga sekarang!
Tidak sampai di situ saja. Rujukan ilmiah tersebut diterbitkan olehberagam jurnal ilmiah dari berbagai disiplin, dari ilmu gizi, kedokteran, hingga kesehatan dan pengobatan. Sudah pasti ini bermakna pula peneliti dan para ilmuwan yang berkecimpung di bidang penelitian kentut juga berasal dari beragam disiplin ilmu.
...

Fisika di balik kentut
Keluarnya angin dari anus itu sendiri juga merupakan peristiwa yang memperlihatkan kebesaran Sang Pencipta. Di dalam saluran pencernaan makanan, terutama di dalam usus, terdapat berbagai zat berwujud padat, cair, gas, serta dengan tingkat kepadatan dan keenceran beragam. Hebatnya, angin kentut yang berbentuk gas bisa mengalir ke arah bawah, dan menerobos cairan dan padatan di dalam usus, untuk kemudian keluarmeninggalkan dubur.
Ini bukan peristiwa yang tidak aneh. Mengapa? Anda bisa mencoba mencampur zat padat, zat cair dan gas di dalam tabung atau gelas yang memiliki katup pengeluaran di bagian dasarnya. Lalu Anda berikan tekanan pada campuran tersebut, bisakah Anda memastikan bahwa gas tersebut bergerak ke arah bawah dan bahwa yang keluar dari katup pengeluaran tersebut hanya gas saja?
Biasanya gas atau gelembung udara bergerak menuju ke atas karena lebih ringan, dan sulit mengeluarkan gas tanpa mencegah keluarnya cairan atau padatannya melalui katup tersebut. Tapi peristiwa kentut terjadi melalui cara di luar kebiasaan itu berkat sempurnanya ciptaan Allah pada otot cincin yang membuka dan menutup lubang anus itu.
Otot lingkar pada dubur ini mampu merasakan keberadaan gas kentut dan mengatur pengeluarannya sedemikian rupa sehingga hanya gas saja, dan bukan padatan dan cairan, yang keluar dari anus. Bayangkan seandainya otot ini tidak mampu memilah dan mencegah keluarnya cairan dan padatan dari usus besar kita di saat kita buang angin di tempat terbuka.
Sangat diragukan jika ada alat buatan manusia yang mampu melakukan kerja seperti lubang anus yang luar biasa itu. Otot-otot dan jaringan terkait di seputar anus adalah organ ciptaan Allah yang Mahahebat, yang mampu melakukan kerja pelepasan gas kentut sekitar 10 kali per hari dengan sempurna, selama puluhan tahun usia manusia.
Kimia gas kentut
Di dalam usus besar, sekitar 70% gas berasal dari udara yang tertelan melalui mulut kita. Ketika makan, orang pada saat yang sama menelan ke dalam perutnya sekitar 2-3 cc udara. Misalnya, jika kita makan apel, udara tambahan yang ikut tertelan ke dalam tubuh kita adalah sekitar 20 cc. Begitu pula dengan minum. Kurang lebih 17 cc udara memasuki saluran pencernaan makanan saat seseorang meminum 10 cc air.
Gas selebihnya yang terdapat pada usus adalah gas asli buatan “dalam negeri”, alias muncul dari dalam usus itu sendiri dan bukan dari luar tubuh. Gas ini dihasilkan melalui aktifitas penguraian oleh mikroba di dalam saluran pencernaan kita.
Bagaimana gas-gas itu terbentuk? Tidak semua makanan yang kita telan dicerna sempurna dan diserap keseluruhannya di dalam usus halus. Sebagian makanan berserat atau zat tepung yang tak tercerna sempurna ini, misalnya kacang-kacangan, kemudian dirombak atau diuraikan oleh mikroba yang menghuni saluran pencernaan kita. Penguraian ini di antaranya menghasilkan zat-zat berwujud gas seperti metana dan hidrogen sulfida, serta gas-gas yang mengandung unsur belerang lainnya.
Gas kentut adalah campuran beragam gas. Kentut sebagian besarnya terdiri atas gas oksigen, nitrogen, karbon dioksida dan metana yang kesemuanya ini bukan penyebab bau tidak sedap. Yang memunculkan aroma tidak sedap pada kentut adalah gas-gas yang mengandung belerang. Di antaranya adalah hidrogen sulfida (bau telur busuk), methanethiol (bau sayur membusuk). Namun ada pula dimetil sulfida yang memiliki bau manis.
Kreatif karena kentut
Ternyata kentut memiliki nilai komersial. Sebut saja Josef Pujol,warga Prancis kelahiran Marseilles tahun 1857. Ia memiliki kelebihan mampu dengan sengaja mengendalikan otot-otot perutnya. Dengannya, ia dapat dengan mudah menyedot 2 liter udara ke dalam usus besarnya melalui anus, dan meniupkan kembali ke luar anus. Dengan kata lain, ia mampu membuat “kentut buatan”.
Berbekal bakat ini, ia memasuki dunia pentas hiburan. Sebelum pentas, ia “mencuci usus besarnya” agar tidak menimbulkan bau tak sedap. Suara buang anginnya hanya memiliki 4 tangga nada: do, mi, sol dan do lagi.
Pentas profesionalnya berawal di tahun1887. Karirnya mulai menanjak ketika ia naik panggung di gedung musik Moulin Rouge di Paris pada tahun1892. Dalam pentasnya, terkadang ia memasang selang pada anusnya yang kemudian disambungkan ke berbagai alat musik tiup untuk bermain musik.
Selain sangat terkenal, ia juga mendapatkan penghasilan 20.000 frank per minggu, dua setengah kali lebih banyak dibandingkan artis kondang kala itu, Sarah Bernhardt. Ketenarannya ini bahkan sempat mendorong Raja Belgia datang diam-diam untuk melihat Josef Pujol.
Penyaring kentut
Kini telah tersedia produk di pasaran yang berfungsi menghilangkan bau kentut yang tidak sedap. FLAT-D adalah salah satu nama produk berbentuk kain persegi panjang, yang mudah dilipat dan dibawa. Kain ini digunakan dengan cara menghamparkan di atas kursi kerja, atau kursi kantor. Selain dapat dicuci dan digunakan ulang, kain ini mengandung karbon teraktifasi.
Ketika seseorang buang angin dalam keadaan duduk di atas kursi kerja yang tertutup kain FLAT-D, kain ajaib ini menyerap aroma tidak sedap kentut tersebut. Penyaring kentut ini diproduksi pula dalam bentuk pembalut yang dapat direkatkan pada celana dalam, sehingga lebih praktis.
Selain FLAT-D, ada pula produk serupa bernama Under-Ease yangdikeluarkan oleh perusahaan Under-Tec Corp. Pakaian dalam yang sudah mendapatkan hak paten ini adalah hasil kerja keras penelitian pasangan suami istri Buck and Arlene Weimer. Produk mereka sempat menjadi buah bibir di media massa AS di awal tahun 2000-an.
Demikianlah, tulisan singkat ini tidak mungkin dapat menampung seluruh hasil-hasil temuan ilmiah dan inovasi teknologi seputar kentut, gas yang seringkali dicemooh orang. Namun, sebagai salah satu ciptaan Allah, ternyata kentut membuktikan bahwa tiada sesuatu yang Allah ciptakan, melainkan menjadi bukti keagungan dan keluasan ilmu Allah, Pencipta tanpa tara. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan yang benar, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:
(yaitu) orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penCIPTAAN langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan SIA-SIA Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali `Imran, 3:191)
(Penulis: Abdul Halim – Februari 2008)
Sumber: www.mitrafm. com
Read more / Selengkapnya...

Bahaya Radiasi Ponsel..!!!!

Tengoklah iklan tarif telepon seluler dari berbagai perusahaan. Tawaran mereka benar-benar menggiurkan: gratis bicara sepanjang hari, bebas menelepon semaumu atau ngobrol sampai dower, dan banyak iming-iming lainnya. Gara-gara tarif murah, orang dengan mudah berhalo-halo tanpa batas. Pulsa mungkin saja "aman", namun kesehatan bisa terancam.
Pembantu rumah tangga atau buruh bangunan pun mengantongi telepon. Di Indonesia, menurut Budi Putra, pengamat dan pengelola blog teknologi komunikasi, pengguna telepon seluler kini mencapai 115 juta orang, sekitar separuh dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengguna handphone di seluruh jagat mencapai tiga miliar orang. Dua kali lipat dibandingkan data 2005.Di balik semua kemudahan berkomunikasi, telepon genggam memunculkan kekhawatiran, terutama bagi kesehatan. Pemicunya, penelitian Vini Gautam Khurana, ahli bedah saraf dari Universitas Nasional Australia, Canberra, yang dipublikasikan pada akhir Maret lalu. Selama 15 bulan, Khurana menelaah lebih dari 100 penelitian yang telah dilakukan berbagai lembaga, tentang keselamatan penggunaan telepon seluler. Hasil penelitian itulah yang menimbulkan gelombang reaksi besar hingga sekarang, karena Khurana menyatakan penggunaan telepon seluler akan memicu epidemi tumor otak, yang akan membunuh lebih banyak orang ketimbang rokok. Menurut riset profesor peraih 14 penghargaan medis ini, penggunaan telepon seluler--langsung dari handset--lebih dari 10 tahun akan menggandakan risiko terkena kanker otak.

...

Tidak hanya Khurana yang punya perhatian besar terhadap dampak buruk penggunaan telepon seluler, lembaga penelitian bergengsi lain juga demikian. Pada Juni lalu Mobile Telecommunications and Health Research di Inggris, bekerja sama dengan Imperial College, London, mengadakan penelitian besar-besaran tentang apakah telepon genggam bisa memicu gejala kanker otak, alzheimer, dan parkinson. Penelitian yang didanai pemerintah Inggris dan sejumlah perusahaan seluler ini akan "membuntuti" 90 ribu orang responden selama setahun. Lalu mengevaluasi dampak kesehatannya. Menjawab kekhawatiran dunia akan bahaya telepon genggam, Organisasi Kesehatan Dunia juga telah meluncurkan Health Evidence Network. Ini merupakan layanan informasi Organisasi Kesehatan Dunia Kantor Regional Eropa, sebagai referensi bagi pengambil keputusan di bidang medis. Ternyata, menurut organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, bukti bahwa radiasi telepon seluler dapat memicu tumor otak, tumor pada sel saraf pendengaran, tumor kelenjar saliva, leukemia dan limfoma, masih "lemah dan tak bisa disimpulkan". Alasannya, orang hanya memakai telepon dalam waktu terbatas--bukan sepanjang hari secara terus-menerus. Meski begitu, lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, tidak ada bukti bukan berarti tidak ada efek. Harus ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik untuk tiap-tiap kasus. Untuk itu, pada Oktober 2009, organisasi ini akan mengeluarkan rekomendasi resmi tentang aturan menggunakan telepon genggam, tentu saja berdasar penelitian yang lebih kredibel. Khurana sendiri menyarankan untuk membuat penelitian dampak penggunaan telepon seluler dalam jangka 10-15 tahun, agar menghasilkan "kajian ilmiah yang solid".Belum adanya kepastian tentang tingkat bahaya penggunaan telepon seluler itulah yang menjadi masalah. Para dokter di Indonesia menyatakan, meski pemakaian telepon seluler meningkat belakangan ini, belum ada penelitian di Tanah Air tentang bahayanya bagi kesehatan. Menurut Silvia F. Lumempouw, dari berbagai kasus penyakit saraf yang ia tangani--termasuk alzheimer dan neuroma akustik--belum pernah ada yang terkait langsung dengan penggunaan telepon genggam. Spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Dharma Nugraha ini menyatakan, radiasi dari seluler sebetulnya tak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan sumber radiasi lain seperti rontgen atau CT-scan. Para pekerja medis yang setiap hari berurusan dengan radiasi pun aman, apalagi "cuma" telepon. Silvia juga mengingatkan, sebetulnya kita juga dikelilingi radiasi dari televisi, radio, komputer, dan berbagai peranti lain. Karena itu, ia menyarankan, kita juga wajib mewaspadai gejala akibat penggunaan handphone yang berlebihan. "Teknologi kan diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk membuat sakit," katanya.Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) ini membandingkan telepon genggam dengan obat. Jika sebelum dipasarkan, obat harus sukses melalui serangkaian proses (dicoba di hewan, lalu di manusia, kemudian di orang sakit), alat-alat teknologi pun seharusnya begitu. "Mesti ada aturan dari sisi kesehatan, sebelum produk itu dipasarkan," kata Silvia. Jangan hanya berorientasi pada kecanggihan tapi tak mementingkan sisi medis. Himawan W.H. juga menyatakan hal senada. Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di jaringan Rumah Sakit Mitra Internasional ini menyebut semua radiasi pada dasarnya berbahaya. Namun radiasi dari telepon genggam relatif kecil.Selain dari telepon genggam, potensi radiasi di sekitar kita yang patut diwaspadai adalah penggunaan microwave, telepon tanpa kabel, paparan sinar matahari langsung, dan penerbangan. Laporan United States Federal Aviation Administration menyatakan, mereka yang terbang secara rutin terekspos radiasi setara dengan 170 kali dipindai sinar X. Karena selalu mengarungi udara itulah, pramugari dan pilot lebih rentan terkena kanker. (Majalah Tempo)
Read more / Selengkapnya...

Wow...Kulit Semangka Bisa Jadi Obat...Keyen g tuh??!!


Hasil penelitian terbaru, seperti dikutip kantor berita Arab Saudi (SPA) Minggu (22/7), menyebutkan bahwa kulit semangka juga dapat menyembuhkan sedikitnya lima macam penyakit.
Penyakit-penyakit yang bisa disembuhkan oleh kulit semangka adalah darah tinggi kronis, radang ginjal, sulit buang air kecil, sulit buang air besar kronis dan penyakit dropsy (sakit gembur-gembur).


...

Hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Medis Biologi yang disiarkan oleh Majalah Riset Medis Yordania itu juga memberikan jaminan bagi pasien dapat sembuh setelah melakukan pengobatan selama sebulan dengan teratur.
Untuk darah tinggi disarankan untuk mengeringkan kulit semangka lalu ditumbuk halus. Setiap hari diambil 20 gram dari kulit yang telah ditumbuk itu dan dimasak dengan air secukupnya. Pasien yang meminumnya secara teratur selama sebulan, penyakit darah tingginya bisa tersembuhkan secara total.Sedangkan empat penyakit lainnya disarankan untuk memotong kecil kulit semangka tersebut lalu dimasak sehingga menjadi adonan lalu disimpan di dalam botol kaca yang ditutup rapi.
Pasien penderita radang ginjal, sulit buang air kecil, sulit buang air besar kronis dan penyakit gembur-gembur, dianjurkan memakan adonan tersebut satu sendok makan sehari sebelum sarapan selama sebulan.“Apabila pasien mengikuti petunjuk tersebut dengan teratur paling sedikit selama sebulan penuh, maka penyakit-penyakit tersebut akan sembuh total dengan izin Allah,” demikian hasil penelitian tersebut.
Dengan adanya hasil penelitian terbaru tersebut, warga Arab yang dikenal memang doyan makan buah semangka, kemungkinan tidak akan membuang kulitnya ke sampah, tapi akan disimpan menjadi bahan obat.(*) @Antara
Read more / Selengkapnya...

Virus Kills Cancer Stem Cells


Breast Cancer Cell
National Cancer Institute

Who would have thought that a common virus could become a potent weapon in the fight against breast cancer. Researchers have discovered that the human reovirus, a virus that does not cause disease in humans, effectively destroys breast cancer cells and cancer stem cells. This is a key discovery as cancer stem cells are very difficult to kill.

...

Cancer researcher Dr. Patrick Lee explains, "Cancer stem cells are essentially mother cells. They continuously produce new cancer cells, aggressively forming tumours even when there are only a few of them. You can kill all the regular cancer cells in a tumour, but as long as there are cancer stem cells present, disease will recur.
"An added benefit that human reovirus brings to the battle against cancer is that it also stimulates the immune system to attack cancer cells. Because the human immune system also attacks the reovirus however, the researchers are now focusing on a method to rein in the immune system so that it will attack the cancer cells while leaving the reovirus unharmed.
Read more / Selengkapnya...

Kamis, 09 April 2009

Sleep May Help Clear Brain For New Learning



Washington University scientists used genetically modified fruit flies to track the creation of new brain synapses, junctures where two brain cells communicate. They found that two scenarios that give the fruit fly's brain a workout caused new synapses to arise. To their surprise, all of the new synapses originated from a group of 16 cells in the fly brain's internal timekeeping mechanism. The cells are highlighted in the encircled area above. (Credit: Image courtesy of Washington University School of Medicine)

A new theory about sleep's benefits for the brain gets a boost from fruit flies in the journal Science. Researchers at Washington University School of Medicine in St. Louis found evidence that sleep, already recognized as a promoter of long-term memories, also helps clear room in the brain for new learning.
...

The critical question: How many synapses, or junctures where nerve cells communicate with each other, are modified by sleep? Neurologists believe creation of new synapses is one key way the brain encodes memories and learning, but this cannot continue unabated and may be where sleep comes in.
"There are a number of reasons why the brain can't indefinitely add synapses, including the finite spatial constraints of the skull," says senior author Paul Shaw, Ph.D., assistant professor of neurobiology at Washington University School of Medicine in St. Louis. "We were able to track the creation of new synapses in fruit flies during learning experiences, and to show that sleep pushed that number back down."
Scientists don't yet know how the synapses are eliminated. According to theory, only the less important connections are trimmed back, while connections encoding important memories are maintained.
Many aspects of fly sleep are similar to human sleep; for example, flies and humans deprived of sleep one day will try to make up for the loss by sleeping more the next day. Because the human brain is much more complex, Shaw uses the flies as models for answering questions about sleep and memory.
Sleep is a recognized promoter of learning, but three years ago Shaw turned that association around and revealed that learning increases the need for sleep in the fruit fly. In a 2006 paper in Science, he and his colleagues found that two separate scenarios, each of which gave the fruit fly's brain a workout, increased the need for sleep.
The first scenario was inspired by human research linking an enriched environment to improved memory and other brain functions. Scientists found that flies raised in an enhanced social environment—a test tube full of other flies—slept approximately 2-3 hours longer than flies raised in isolation.
Researchers also gave male fruit flies their first exposure to female fruit flies, but with a catch—the females were either already mated or were actually male flies altered to emit female pheromones. Either fly rebuffed the test fly's attempts to mate. The test flies were then kept in isolation for two days and exposed to receptive female flies. Test flies that remembered their prior failures didn't try to mate again; they also slept more. Researchers concluded that these flies had encoded memories of their prior experience, more directly proving the connection between sleep and new memories.

Scientists repeated these tests for the new study, but this time they used flies genetically altered to make it possible to track the development of new synapses, the junctures at which brain cells communicate.
"The biggest surprise was that out of 200,000 fly brain cells, only 16 were required for the formation of new memories, " says first author Jeffrey Donlea, a graduate student. "These sixteen are lateral ventral neurons, which are part of the circadian circuitry that let the fly brain perform certain behaviors at particular times of day."
When flies slept, the number of new synapses formed during social enrichment decreased. When researchers deprived them of their sleep, the decline did not occur.
Donlea identified three genes essential to the links between learning and increased need for sleep: rutabaga, period and blistered. Flies lacking any of those genes did not have increased need for sleep after social enrichment or the mating test.
Blistered is the fruit fly equivalent to a human gene known as serum response factor (SRF). Scientists have previously linked SRF to plasticity, a term for brain change that includes both learning and memory and the general ability of the brain to rewire itself to adapt to injury or changing needs.
The new study shows that SRF could offer an important advantage for scientists hoping to study plasticity: unlike other genes connected to plasticity, it's not also associated with cell survival.
"That's going to be very helpful to our efforts to study plasticity, because it removes a large confounding factor," says co-author Naren Ramanan, Ph.D., assistant professor of neurobiology. "We can alter SRF activity and not have to worry about whether the resulting changes in brain function come from changes in plasticity or from dying cells."
Shaw plans further investigations of the connections between memory and sleep, including the question of how increased synapses induce the need for sleep.
"Right now a lot of people are worried about their jobs and the economy, and some are no doubt losing sleep over these concerns," Shaw says. "But these data suggest the best thing you can do to make sure you stay sharp and increase your chances of keeping your job is to make getting enough sleep a top priority."

Read more / Selengkapnya...

Comments

Script Search

My_friendster

Yahoo Messenger

Spider View

Snap Shots

Get Free Shots from Snap.com

Friends